Mengapa Banyak Pemain Overestimate Skill Sendiri di Mobile Legends – Halo Sobat Museodeantioquia, kamu yang mungkin pernah merasa, “Aku mainnya sebenarnya bagus, cuma lingkungannya yang bermasalah.” Pikiran ini manusiawi. Tapi jika dibiarkan tanpa diuji, ia berubah menjadi penghalang terbesar perkembangan skill.
Fenomena overestimate skill bukan ciri pemain lemah—justru sering terjadi pada pemain menengah, yang sudah bisa bermain “benar” di beberapa situasi, tapi belum cukup paham untuk melihat batasannya sendiri.
Mari kita bedah secara rasional.
Asumsi Dasar yang Jarang Dipertanyakan
Banyak pemain menganggap:
“Kalau aku sering unggul di lane dan KDA-ku bagus, berarti skill-ku tinggi.”
Ini asumsi setengah benar.
Masalahnya:
- Unggul lokal ≠ unggul global
- Statistik bagus ≠ keputusan tepat
- Menang duel ≠ menang game
Skill di Mobile Legends bersifat multi-dimensi, tapi pemain sering menilai hanya dari dimensi yang terlihat.
Efek Dunning–Kruger di Mobile Legends
Ada bias psikologis klasik: semakin sedikit pemahaman mendalam, semakin tinggi kepercayaan diri.
Di ML, ini muncul saat pemain:
- Sudah paham mekanik dasar
- Bisa menang duel
- Tahu istilah meta
Namun belum:
- Memahami makro secara utuh
- Mengerti konsekuensi jangka panjang
- Melihat kesalahan sendiri yang tidak fatal secara instan
Akibatnya, rasa “aku sudah jago” muncul lebih cepat daripada kompetensi sebenarnya.
Statistik sebagai Cermin yang Menipu
KDA, damage, bahkan MVP sering memperkuat ilusi skill.
Masalahnya:
- Statistik tidak menghitung positioning buruk yang tidak dihukum
- Tidak mencatat momen seharusnya mundur tapi tidak
- Tidak menilai kontribusi non-damage
Pemain lalu berpikir:
“Buktinya angkaku bagus.”
Padahal angka itu sering lahir dari situasi yang tidak menguji batas kemampuan.
Salah Atribusi Kemenangan dan Kekalahan
Pola pikir yang umum:
- Menang → karena skill sendiri
- Kalah → karena tim atau sistem
Ini disebut self-serving bias.
Tanpa disadari:
- Kesalahan pribadi dikecilkan
- Keberhasilan diperbesar
Dalam jangka panjang, ini membuat pemain:
- Kehilangan feedback jujur
- Tidak tahu apa yang perlu diperbaiki
Lingkungan Rank yang Memperkuat Ilusi
Di rank tertentu:
- Kesalahan lawan sering tidak dihukum
- Overextend dibiarkan
- Objektif sering diabaikan
Pemain yang terbiasa di lingkungan ini:
- Menganggap kebiasaan buruk sebagai “aman”
- Merasa skill-nya cukup karena tidak dihukum
Begitu naik sedikit:
- Kesalahan yang sama langsung fatal
- Rasa “tiba-tiba jadi jelek” muncul
Padahal bukan skill yang turun—standar lingkungannya yang naik.
Overestimate Skill = Underestimate Kompleksitas Game
Mobile Legends terlihat sederhana:
- Map kecil
- Kontrol mudah
Ini menipu.
Di balik itu ada:
- Manajemen tempo
- Sinkronisasi tim
- Pengambilan risiko
- Adaptasi kondisi
Pemain yang merasa “sudah paham ML” sering baru menyentuh permukaan kompleksitasnya.
Ciri-Ciri Overestimate Skill yang Perlu Diwaspadai
Coba jujur pada diri sendiri. Apakah kamu sering:
- Merasa paling benar saat kalah?
- Jarang menemukan kesalahan sendiri saat review?
- Merasa hero atau role-lah yang membatasi?
- Meremehkan keputusan kecil?
Jika ya, bukan berarti kamu buruk—tapi mungkin belum melihat seluruh peta permainan.
Perspektif Alternatif: Pemain Jago Justru Paling Sering Meragukan Diri
Ironisnya:
- Pemain benar-benar kuat sering sadar betapa banyak yang belum ia kuasai
- Mereka lebih sering bertanya “apa yang bisa kulakukan lebih baik?”
Keraguan ini bukan kelemahan, tapi:
- Kesadaran akan kompleksitas
- Fondasi pembelajaran berkelanjutan
Cara Mengurangi Overestimate Skill (Tanpa Meruntuhkan Mental)
Bukan dengan merendahkan diri, tapi dengan:
- Mengganti pertanyaan dari “siapa yang salah?” ke “keputusan mana yang bisa dioptimalkan?”
- Menilai game dari objektif, bukan duel
- Menganggap setiap kalah sebagai data, bukan penghinaan
Ini bukan soal menyalahkan diri, tapi mengkalibrasi ulang penilaian diri.
Kesimpulan
Sebagai penutup, overestimate skill bukan tanda kesombongan, tapi tanda kurangnya cermin yang jujur. Mobile Legends terlalu kompleks untuk dinilai hanya dari apa yang terlihat di layar.
Pertanyaan paling sehat bukan:
“Seberapa jago aku?”
Melainkan:
“Bagian mana dari permainan ini yang belum benar-benar kupahami?”
Jika kamu berani mempertanyakan itu, progress bukan lagi soal jika, tapi kapan.

Leave a Reply